Makam Mbah Lowo ljo
Makam Mbah Lowo ljo
Mbah Lowo Ijo merupakan salah satu ulama salaf yang banyak menurunkan nasab kiai dari Bangil. Salah satunya, Mbah Kholil Bangkalan. Makamnya yang berada di Pogar, Kecamatan Bangil, kerap dikunjungi peziarah hingga saat ini.
Kisah Mbah Lowo Ijo terdiri atas beberapa versi. Ada yang menyebut beliau itu merupakan Mbah Jalaludin atau Kiai Sayyidin. Namun, ada pula yang menyebut mereka orang berbeda.
Muhammad Imam Harromain, tokoh agama asal Bangil yang memiliki silsilah dengan Mbah Lowo Ijo menguraikan, Mbah Lowo Ijo hidup di masa penjajahan Belanda. Di kisaran abad 16 dan 17 Masehi. Beliau dikenal sebagai salah satu bagian keluarga dari Sunan Ampel Surabaya. Karena berhasil mempersunting cucu dari Sunan Ampel, Sa’diyyah.
Mbah Lowo Ijo sendiri berguru pada Sunan Bonang yang tak lain putra dari Sunan Ampel. Beliau tinggal di Bangil untuk menyebarkan ilmu di kota santri tersebut.
Dikisahkan, kedatangan beliau hingga sampai di Bangil tidaklah mudah. Mbah Lowo Ijo yang kala itu bersama saudaranya Mbah Sayyidono, hijrah ke Bangil dengan menaiki kayu jati besar dari Tuban. Mereka menyusuri lautan hingga akhirnya sampai di Sungai Kedunglarangan, Bangil.
Sampai di Bangil, Mbah Lowo Ijo kemudian mendirikan pondok pesantren Cangaan. Nama Cangaan itu diambil dari salah satu tempat yang ada di Jawa Tengah.
“Mbah Lowo Ijo dengan Mbah Sayyidono memiliki keilmuan berbeda. Mbah Lowo Ijo lebih pada ilmu batin. Sementara Mbah Sayyidono lebih pada ilmu kanuragan,” kisah Gus Romi -panggilan Muhammad Imam Harromain-.
Konon Mbah Lowo Ijo kerap menjadi sosok yang dicari-cari oleh tentara penjajah. Untuk bersembunyi dari tentara penjajah waktu itu, beliau memilih bertapa dan beribadah dengan bergelantungan di pohon pisang. Mirip seperti kelelawar.
“Hal inilah yang membuat julukan Mbah Jalaludin sebagai Mbah Lowo Ijo melekat hingga sekarang,” tutup pengasuh Ponpes Darut Tauhid Bangil tersebut.
Ziarah Ramai saat Malam Jumat
Mbah Lowo Ijo meninggal di kisaran abad ke-17 Masehi. Ia dimakamkan di area pemakaman umum Lingkungan Diwet, Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil. Di samping makamnya, ada makam istrinya, Sa’diyyah. Makam tersebut sampai kini menjadi jujukan warga untuk berziarah.
Muhammad Imam Harromain yang memiliki silsilah garis keturunan dengan Mbah Lowo Ijo menyebut, peziarah yang datang bukan hanya berasal dari Kabupaten Pasuruan. Ada pula yang datang dari Surabaya, Madura, dan beberapa daerah lainnya.
Saat malam hari, makin banyak peziarah yang datang. Bisa puluhan orang, bahkan ratusan.
Bukan hanya hari-hari biasa saja. Pengunjung makam, berdatangan ketika momen Ramadan
lokasi

.jpeg)


wah sangat informatif sekali
ReplyDeleteMasih suka kesinii, jdi kangenn
ReplyDeleteApakah dikenakan biaya?
ReplyDeletetidak dikenakan biaya kak
DeleteApa ini buka 24 jam?
ReplyDeleteiyaa kak
DeleteBaru tau ada wisata ini
ReplyDeleteSangat informatif sekali dan sekaligus penambah wawasan bagi semua orang
ReplyDeletewah jadi pengen ziarah kesana lagi
ReplyDeletewaww kerennn, ternyata ada ya sejarah di pogarr, karena blog ini aku jadi lebih tahu tentang pogar🤗🤗
ReplyDeleteBagaimana akses jalan menuju makam?
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteWah baru tau ada makam mbah Lowo di deket rumah, jd pengen kesana
ReplyDeleteWah unikk sekalii, penasaran pingin kesana
ReplyDeleteInformasinya sangat membantu kak
ReplyDeletebelum pernah kesana, jadi pingin ziarah kesana
ReplyDeletetempatnya ini didalam perdesaan apa bagaimna
ReplyDeleteWah unik ya. Saya baru tau info ini. Jadi pingin ziarah ke sana. Sekalian nambah wawasan disana.
ReplyDeleteBangil sebelah mana?
ReplyDelete